Gosong vs Risk Management


bismillah…

Bapak/ Ibu Pengusaha TDA yang dimuliakan Allah…
sedikit sharing yang saya peroleh pada inhouse training pertengahan tahun 2009 lalu.
Risk Management yang dalam hitungan probability kita, berkisar dari 1% hingga 99%.
Dan mustahil (0%) atau yg pasti terjadi (100%) ‘tidak dianggap sebagai resiko’.

Ada rekan yang sudah pernah sharing di milist pernah berkata bahwa,
“Ayo buruan action… planning diatas kertas jangan terlalu matang, nanti gosong”.
sangat provokatif memang… namun memperlihatkan ghiroh yang meledak-ledak.
Seperti kita ketahui bersama bahwa secara umum, resiko sering dikaitkan atau dilihat
dari sudut pandang negatif, sehingga dalam benak kita diartikan sebagai kemungkinan menderita kerugian.
Namun actualnya resiko dapat juga dilihat dari sudut pandang positif, yaitu berupa peluang.
Peluang, peluang dan peluang yang memungkinkan mendapatkan keuntungan dari Risk Management tersebut.
Namun mengingat dampak dari kerugian yang akan menerpa, juga kurang sadarnya kita akan faktor resiko
(terutama yang negatif), maka kebanyakan orang membahasnya dari sudut pandang negatif.
“umpami heunteu kitu… moal tiasa dimimitian atuh Kang”,
“kalau begitu… gak akan pernah dimulai dong Kang”, tanya teman akrab saya.
>>> “Smart with Smart Way….”, jawab saya.

Bapak/Ibu, ada 1 prinsip penting yang terlupakan….
Dalam Risk Management, orang harus mempunyai pola pikir pro-aktif dan antisipatif, serta disiplin, dan belajar untuk selalu waspada.
Mencermati apa yg sudah dilakukan atau direncanakannya.
Dalam kutipan dari buku yang saya baca bahwa, resiko terjadi karena adanya pertemuan 3 faktor, yaitu:
1. Obyek, Entitas atau Assets
2. Threat atau ancaman dari luar terhadap obyek tersebut.
3. Vulnerabilities atau kelemahan bawaan dari internal obyek tsb.
Pertemuan ketiga faktor yang pas dan klop-lah yang memicu terjadinya resiko.

Contoh gampangnya sbb :
Resiko kebakaran terjadi bila ada obyek yang terbuat dari kayu, tekstil….yang mudah terbakar dan ada yang memicu kebakaran tsb….entah dibakar, terkena konslet, over-heat, dsb. Bila obyek tsb berupa air atau logam, mungkin resiko kebakaran tidak terjadi. Bila obyek mudah terbakar berada di lokasi yang aman, bertemperatur rendah, maka resiko kebakaran mungkin tidak terjadi.
Sehingga Risk Management pada prinsipnya mencoba membuat counter-measure dari resiko tsb, dgn cara:
1. bisa mengganti obyeknya, atau
2. menghalangi threat, atau
3. menutupi vulnerabilities nya.

Contohnya, masih pada topik kebakaran :
1. bila kita mengganti bahan yang mudah terbakar dengan yang tidak dapat dibakar, itu berarti mencegah/menghilangkan resiko kebakaran.
2. bila kita sewa barang, membeli jasa asuransi, maka kita mengalihkan beban resiko ke pihak lain.
3. bila kita meletakkan barang mudah terbakar di lingkungan yang relatif aman dari resiko kebakaran, maka kita melakukan minimalisir resiko kebakaran.

Mencoba berbagi…
Semoga bermanfaat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s