Sekilas Profil Haji Alay



diunduh dari blognya Badroni Yuzirman

Talk Show Haji Alay
24 Januari 2008

Dalam usaha yang paling penting adalah IDE. Kalau perlu biar orang-orang pintarlah yang akan mengerjakannya. Dalam pertandingan sepak bola, yang paling hebat & gak pernah kalah adalah penonton. Karena penonton tidak pernah main, jadi tidak pernah kalah, dan selalu berkomentar. Demikian pula pelatih tidak pernah menang, meski ia lebih hebat dari pemain. Yang akan menang adalah pemain & yang mendapat piala adalah pemain. Bisa jadi ada masa-masa kalah. Tapi, kalah bukan menyebabkan berhenti main bola, tapi justru terus membuatnya berlatih hingga menjadi juara. Jadilah pelaku kalau ingin sukses, jangan jadi penonton. Jadilah penggerak bisnis, jangan pengamat ekonomi.

Orang yang belajar naik sepeda, kemudian jatuh & kesakitan, lalu berhenti, maka ia tidak akan pernah bisa naik sepeda. Tapi, orang yang naik sepeda meski kaki berdarah harus masuk selokan & terus berlatih naik sepeda, maka ia akan bisa naik sepeda. Sama seperti bisnis, kalau ada kerugian, jadikan itu pengalaman & perbaikan mengapa sampai merugi. Jadi, kesabaran kita berlatih sampai bisa, maka ini yang akan menuai sukses.

Beberapa point dari Pak Haji yang diberikan saat sesi tanya jawab, antara lain:
1. Utamakan pembayaran cash (tunai) karena sekarang ini agak susah mencari orang yang jujur. Karena dalam penjualan grosir, kuantiti semakin besar, margin semakin kecil. Dengan jaringan, pemasaran jadi lebih mudah.
2. Dalam berdagang Tekuni, Dalami, Tungguin. Kuasai pasar terlebih dahulu. Meski barang tidak punya, bisa barang dari orang lain. Jangan berhutang kepada supplier karena itu akan memperlancar perdagangan.
3. Trik berdagang yang cerdas. Perbanyak silaturahmi. Potensi apa yang ada di rekan-rekan yang bisa dibantu untuk dijualkan. Mulailah dari kecil-kecil dulu. Kejujuran adalah yang utama. Apapun bisa kita buat kalau dikerjakan bersama. Putuskan saya tidak akan bekerja. Saya akan menjadi orang yang memberi bukan orang yang menerima.
4. Terus berpromosi.
5. Buat Perbedaan. Hindari persaingan langsung yang saling menjatuhkan. Jangan ada niat untuk menyaingi yang bersifat menghancurkan orang lain. Karena itu berarti kita membuka konfrontasi dengan Allah SWT. Jangan iri, dengki, atau syirik sehingga membuat kita tidak cerdas berpikir.
6. Perhatikan cashflow & mulai berinvestasi. Kalau sudah bisa mencicil suatu tempat, sebaiknya beli. Bersahabatlah dengan bank.
7. Jatuh bangun adalah proses. Semua yang ada di muka bumi ini melalui proses.
8. Kalau ingin berdagang mulai saja, yang penting semangat & kejujuran. Tidak perlu modal besar dulu. 50rb pun jadi. Yang besar juga bermula dari yang kecil. Apa yang kita mulai dari kecil bisa menjadi besar asal kita komit dengan tujuan kita.
9. Tangan-tangan Allah selalu berada bagi orang yang berjamaah.
10. Kekurangjelian kita sebagai pengusaha dalam berkompetisi sehingga kalah dalam persaingan internasional. Orang Cina pintar mengetahui kemauan pasar & mengambil kesempatan.
11. Tanamkan pada anak cucu kita agar sekolah untuk membuka lapangan kerja.

Pak Haji menutup acara dengan harapan “Semoga bisa menjadi pengusaha sukses yang bisa memberikan sumbangsih untuk negara”. Kuncinya adalah take action.

Salam,
Febby Rudiana

———————————————

Komitmen Membangkitkan Ekonomi Umat, Haji Alay dan Abdurrahman bin Auf Trade Center (ATECE) Bandung

Monday, 01 December 2008

Di Bandung kini, Anda tentu sudah mafhum jika mall-mall seolah menjadi bangunan wajib di setiap ruang keramaian kota. Diantara sekian puluh mall yang ada, belum tampak satupun yang menunjukkan nuansa ‘berbeda’ satu sama lain.
Sampai suatu ketika, tertulis sebuah rangkaian kata mutiara sederhana, namun penuh makna, di tembok salah satu Mall di bilangan Banceuy, kota Bandung.
“Jadikan dirimu Laksana Lebah Madu, kedatanganmu selalu dirindu. Jangan jadi lalat hijau, kehadirannya selalu bikin kacau.”
Dulu, sekitar tujuh tahun lalu, Brand Mall itu cukup ternama, Matahari Department Store. Konon, karena tak kuat bersaing di kancah pertempuran bisnis retail yang terus menjamur di Kota Bandung, Mall ini terpaksa gulung tikar.

Sekian waktu vakum. Arena bisnis maksiat menjamur. Saban malam, hingar bingar house music, terdengar nyaring di Lantai 6 gedung ini. Bahkan, perjudian dengan ragam bentuknya pun tak kalah marak, mencemari kehidupan masyarakat Bandung yang dikenal religius.

Adalah Haji Nuzli Arismal, alias Haji Alay, yang membuat sebuah perubahan fundamental di Mall ini. Pengusaha asli Bukittinggi, Sumatera Barat ini melihat kondisi mula bangunan yang sangat memprihatinkan. Sarang laba-laba menghias langit-langitnya. Ruang-ruang jendela sebagian retak, selebihnya tak lagi berkaca. Bahkan bau pesing sisa pembuangan air kecil yang tidak pada tempatnya, membuat suasana pengap kian kentara.

Dengan pengalaman membangun pusat grosir Blok F3 Tanah Abang, Jakarta, Haji Alay menata kawasan penuh maksiat ini menjadi areal perbelanjaan bernuansa Islami.

Selain kata-kata mutiara yang tertambat di setiap sudut Mall, ada keunikan lain yang membuat Mall ini begitu berbeda tampilannya dibandingkan tempat sejenis. 99 Asma Allah menghias pilar-pilar kokoh, persis di muka Gedung Mall bernama Abdurrahman bin Auf Trade Center (ATECE) ini.

Tentu saja Haji Alay tidak begitu saja memilih nama salah seorang sahabat nabi, Abdurrahman bin Auf, untuk diabadikan menjadi nama Mall baru itu. Perilaku mulia Abdurrahman bin Auf (seperti yang dikisahkan dalam banyak literatur) sebagai pengusaha ulet, yang pantang meminta belas kasih dari orang-orang di sekitarnya, menjadi inspirasi tersendiri bagi Haji Alay.

Kios-kios yang menjual aneka busana Muslim berderet rapi di lantai bawah ATECE. Ada Jilbab, mukena, sarung, dan beragam jenis sandang khusus kaum muslim/muslimah, termasuk perlengkapan Haji, menghias etalase toko.

“Di gedung ini, ratusan kios siap ditempati oleh pelbagai produk kebutuhan umat. Sekitar 80-an diantaranya sudah terisi,” tutur sosok kelahiran Bukittinggi, Sumater Barat ini, saat ditemui tim peliput Alhikmah, di sela kunjungan rutinnya ke ATECE, sepenggal waktu lalu.

Cara Haji Alay meramaikan pusat perbelanjaan baru ini pun terbilang unik Sengaja ia mengundang siapa saja yang berminat untuk mengisi kios, tanpa pungutan sesenpun. Ia berprinsip, “Anda Untung, Kami Beruntung. Yang terpenting adalah ada keinginan untuk ikhtiar membuka usaha. Nanti setelah terlihat hasilnya, baru didorong untuk bagi hasil se-ikhlasnya.”
Perkara rugi, tambah Haji Alay, namanya juga usaha. Jadikanlah itu semua sebagai pengalaman, sekaligus bahan evaluasi, mengapa sampai terjadi kerugian.

Ia membuat analogi usaha ibarat orang yang tengah belajar naik sepeda. Jika terjatuh, merasakan sakit, lalu berhenti begitu saja, maka tujuan untuk bisa mengendarai sepeda akan sirna begitu saja. Lain halnya dengan mereka yang terjatuh, namun pantang menyerah. Pada akhirnya sepeda pun akan bisa dikuasai sepenuhnya.

Cara seperti inilah yang menurut keyakinan dan pengalamannya, telah mengubah berbagai pusat perbelanjaan yang tadinya sepi, menjadi ramai kembali. Sebuah wujud nyata keberpihakan seorang Haji Alay terhadap prinsip ekonomi berkeadilan. Subhanallah!

(handono bhakti sungkaryo)*

http://www.alhikmahonline.com/content/view/269/24/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s