Terampil Mengelola Energi, Bukan Waktu !


Kita hidup di era digital yang serba berpacu dalam kecepatan. Semua orang tergesa-gesa. Anak-anak pun “dipaksa” tergesa-gesa.

Kita diajak untuk menghargai yang “luas” dan “banyak” ketimbang yang “mendalam”. Banyak teman di Facebook, banyak follower di Twitter, tapi berapa di antaranya yang benar-benar menjadi teman kita secara mendalam?

Kita dipaksa untuk bereaksi cepat ketimbang melakukan refleksi mendalam terhadap apa yang terjadi.

Kita terus berpacu tanpa berhenti sejenak untuk memikirkan apa sebenarnya yang kita inginkan dan ke mana kita hendak pergi. Kita terhubung sekaligus kehilangan makna. Kita lebih kenal aktivitas teman nun jauh di sana ketimbang tetangga di sebelah rumah (saya teringat kata-kata Dalai Lama yang menggambarkan paradoks ini).

Orang moderen perkotaan banyak mengeluh tidak cukup waktu dalam menjalani kehidupannya. Keseimbangan antara kerja, keluarga, sosial dan kesehatan terganggu. Pasti ada yang “dikorbankan” dengan dalih kesulitan mengelola waktu. Hidup jadi kehilangan keseimbangan.

“I wish I had more time”, hampir semua orang mengharapkan itu.

Buku The Power of Full Engagement: Managing Energy, Not Time, Is The Key to High Performance and Personal Renewal karya Jim Loeke dan Tony Schwartz membuka mata saya dalam memahami pola manajemen waktu yang dikenal selama ini.

Mengelola energi (bukan waktu) ternyata adalah kunci menuju kinerja tinggi yang bertahan lama, kesehatan, kebahagiaan dan keseimbangan hidup.

Beberapa pendapat menarik dari buku ini di antaranya:

– Energi adalah faktor utama tingginya kinerja, bukan waktu.

– Kita akan berkinerja baik, sehat dan bahagia jika terampil mengelola energi.

– Untuk mendapatkan energi tinggi dalam menjalani hidup, kita harus menjalaninya dengan keterlibatan penuh (full engagement) dengan menjalin energi yang seimbang antara fisik, emosional, mental dan spiritual.

– Kita harus membangun kapasitas spiritual, mental dan emosional dengan cara yang persis sama dengan yang kita lakukan untuk membangun kapasitas fisik.

Beberapa paradigma lama yang harus kita ganti:

– Mengelola waktu menjadi mengelola energi.

– Menghindari stress menjadi menghadapi stress.

– Saat istirahat adalah saat yang sia-sia menjadi saat yang justru produktif.

– Kinerja tinggi disulut oleh penghargaan menjadi disulut oleh tujuan.

– Yang penting adalah berpikir positif menjadi yang penting adalah keterlibatan penuh.

Buku yang menarik dan mencerahkan. Sebetulnya ide ini bukanlah seratus persen baru buat saya. Saya sudah cukup akrab dengan ide ini dalam bentuk yang berbeda.

Jadi, kinerja tertinggi kita bukan ditentukan oleh berapa banyaknya pekerjaan yang kita selesaikan dalam waktu tertentu, melainkan seberapa kita memfokuskan energi dengan keterlibatan penuh dalam menjalaninya satu per satu, meski pun dengan ritme yang lebih lambat.

Saya biasa membagi waktu dengan tema dan fokus tertentu, misalnya: bisnis, keluarga, sosial dan sebagainya.

Ketika hari ini tema saya adalah untuk bisnis, saya tidak akan mencampuradukkannya dengan sosial atau urusan keluarga. Demikian juga sebaliknya. Saya akan menolak jadwal atau pekerjaan yang bertentangan dengan fokus saya saat itu.

Dengan mempraktekkan ini, saya merasa terlibat secara penuh dengan segenap energi yang ditumpahkan bersamanya (mental, emosional, fisik dan spiritual).

Saya pernah membatalkan agenda bisnis beberapa hari lantaran ingin fokus menemani mama terapi di rumah sakit selama seminggu. Yang saya rasakan, saya merasa puas dan nyaman dibandingkan jika saya berusaha menjalani semuanya dengan pontang panting (sebenarnya bisa, tapi saya tidak mau).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s