Bekerja demi Bekerja



Bukan kita bekerja untuk uang tapi uanglah yang bekerja untuk kita. (Robert T Kiyosaki)

Kalimat itu saudaraku, saya kutip dari buku seorang yang buku-bukunya mengguncang banyak orang di berbagai belahan dunia, termasuk kita, di Indonesia. Orang ini setidaknya punya empat buku yang sangat menghasut, yang ia sebut sebagai serial Rich Dad. Kenapa? Karena semua buku itu memang bermula dari buku pertamanya yang sekarang telah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa: Rich Dad Poor Dad.

Sungguh buku yang menggugah sekaligus menakutkan. Karena betapa gelar doktor dan profesor, kehebatan inelegensi, ketinggian gelar akademis, tak lebih dari sekadar prestasi kelas pekarja. Di buku ini, mereka cuma akan jatuh menjadi the poor dad, bapak yang miskin, yang hidup cuma dari duit gaji, tua dengan dana pensiun, dan masih harus digelayuti aneka pajak pula. Siapapun kita, sepanjang cuma bisa hidup dari bayaran, tetaplah masuk kasta terendah dari empat kasta yang ada.

Berbeda dengan bapak yang lain lagi, the rich dad itu. Sekolahnya tak perlu tinggi, kalau perlu boleh putus sekolah, tapi sepanjang mereka memiliki naluri berinvestasi, naluri mencetak uang, mereka akan menjadi manusia yang tidak cuma kaya, tapi harus disebut ultra kaya. Mereka akan menjadi seperti Bill Gates pendiri Microsoft, Henry Ford pendiri Ford Motor Company, Thomas Edison pendiri General Electric, Ted Turner pendiri CNN, Michael Dell pendiri Dell Computer.

Merekalah orang yang telah hidup di kasta tertinggi, yakni manusia investasi, seorang investor. Dengan uangnya yang tak terhitung, pekerjaan orang ini melulu cuma berinvestasi. Keuntungan dari satu ivestasi akan melahirkan investasi lainnya. Terus, terus dan terus, sampai rangkaian investasi itu menjalar menjadi gurita raksasa sampai orang ini tak sanggup lagi menampung tumpukan uangnya apalagi menghafal nama-nama karyawannya.

Dengan kedudukannya itu, mereka bisa pensiun kapan saja, pergi ke belahan dunia manapun. Jika mereka mengerjakan sesuatu, bukan karena mereka ”harus” mengerjakan, tapi karena mereka ”ingin” mengerjakan sesuatu itu. Ada memang perbedaan besar antara yang ”harus” dan yang ”ingin”.

Dan betapa menyenangkan tinggal di kasta itu. Betapa malang jika kita akhirnya cuma bisa berada di kelas pekerja sampai mati, menjadi tukang sampai akhir hayat. Buku ini dengan sangat meyakinkan meggoda kita, betapa menjadi kaya adalah urusan mudah, betapa pindah kasta adalah soal sederhana. Sungguh buku yang memberi semangat yang menggugah, pemberi kesadaran yang mencerahkan, sekaligus menyodorkan impian yang memabukkan.

Yang aku takutkan saudaraku, jika dari buku semacam ini kita cuma sanggup mengambil mimpi sambil melupakan semangat dan pencerahan itu. Karena soal bakat mimpi, tak perlu kita ragukan, kita adalah jagonya. Berapa banyak orang kaya kita yang benar-benar berasal dari semangat investasinya? Orang semacam itu bukannya tak ada, tapi jangan-jangan tak banyak jumlahnya.

Banyaknya pejabat dan konglomerat bermasalah membuktikan kepada kita betapa banyak kekayaan yang diperoleh dari tipu daya dagang dan penyelewengan kekuasaan. Orang kaya semacam itu adalah borjuis palsu. Mereka tak pernah bisa kaya dengan cara benar-benar bekerja tapi cukup menerabas dan menipu. Dan itulah kelakuan para pemimpi yang mencari kekayaan justru dengan cara berangkat tidur, untuk kemudian berharap ada timbunan harta ketika ia terjaga.

Maka saudaraku, semangat menjadi kaya itulah yang membuat tampang kita sering bisa menjadi aneh secara tiba-tiba. Dari seorang yang peragu dan rendah diri, kita bisa seketika menjadi klimis berdasi dan percaya diri. Begitu usai mendatangi seminar leadership, self improvement atau pengembangan pribadi, kita sudah bisa keluar bak pendekar Musashi. Dengan pedang di tangan, kita merasa telah siap membabat nasib sial.

Padahal watak nasib itu sering serupa angkasa raya, menyerupai ruang kosong yang sabetan pedang tak akan berarti apa-apa karena cuma ketemu ruang hampa.

Maka sebetulnya, Robert T Kiyosaki mestinya tak cukup hanya punya dua bapak, bapak miskin dan bapak kaya itu, tapi juga butuh jenis bapak satu lagi. Bapak yang mengingatkan kita tentang adanya tipe manusia yang bekerja tidak demi untuk uang uang atau untuk apapun, tapi demi bekerja itu sendiri. Dan orang semacam itu membingungkan kita karena entah terletak di kasta yang mana! (03)

(PrieGS/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s