Selling with Emphaty


Tadi pagi saya dan istri membeli sebuah mainan bola plastik didepan RS. ‘’Kasihan. Penjualnya tua sekali, lengkap dengan koyo cabe disana-sini,’’ kata saya dalam hati. Pagi yg begitu dingin, semalam hujan. Tetapi dinginnya seperti mereda demi tersadar, oo saya memiliki istri yang baik hati. Apalagi setiap kebaikan yang kami perbuat, hasilnya memang cuma lari ke dalam hati kami sendiri. Kami tidak sedang ingin sok mulia. Tetapi kebaikan-kebaikan kecil itu memang menyehatkan hati. Apalagi harganya toh murah saja, toh cuma sebuah balon plastik.

Jika nasib baik memihaknya, orang serenta ini pasti lebih cocok tinggal di rumah dikelelilingi anak dan cucu sambil menghabiskan umur sebagai pensiunan yang manja. Ia sudah harus ganti menikmati pelayanan anak-anaknya yang semuanya sudah berkeluarga dan sukses pula. Jika sakit, ia layak dicarikan rumah sakit terbaik, ditunggui ramai-ramai. Jika punya permintaan, seluruh anak-anaknya akan saling berebut memenuhi. Jika hendak bepergian, cukup memberi perintah dan seluruhnya akan bahagia menjadi pengantarnya. Itulah hari tua yang kita bayangkan.

Tetapi orang tua ini pasti datang dari jenis nasib yang lain lagi. Nasib yang memaksanya berkeliling dengan pikulan berat di pundaknya. Koyo-koyo yg tertempel itu, hanyalah beban bagi yang memandangnya. Saya jamin, pembeli dagangannya pasti bukan para penggemar balon plastik, melainkan sekadar orang-orang yang iba belaka. Melihat keadaannya, hampir-hampir saya menggugurkan rasa syukur saya atas kebaikan istri. Karena untuk iba pada orang ini, sungguh tak perlu lebih dulu menjadi orang baik hati. Penjahat paling brutal pun bisa menghentikan kejahatannya dan jatuh iba pada pemandangan ini.

Mata Pak Tua ini sudah buram sepenuhnya, pendengarannya pun berkurang, batuk yg menyiksa sekali dan pagi yang amat menggigil itu pasti menyiksanya dengan bermacam-macam fatamorgana. Pinggang orang tua ini telah melengkung. Keriput merajalela di sekujur kulitnya. Dua saja kelayakan yang mestinya ia miliki: duduk di kursi malas di teras rumah yang luas atau malah terbaring payah di ruang gawat darurat. Maka demi melihatnya masih berkeliling dengan dagangannya itu, dengan balon-balon yg amat banyak tersebut, dan diantaranya malah kempes disana-sini adalah pemandangan yang amat ingin saya hindari. Maka keputusan istri itu sekali lagi saya gembirai.

Pak tua ini pasti tak pernah datang ke seminar James Gwee; Selling with Emphaty. Tetapi ia berhasil menarik emphati pembeli.

 

Tapi kedudukan Pak Tua ini lebih mulia dibandingkan dengan kelakuan seorang oknum korup yg menyimpan uang rakyat sebanyak ratusan juta didalam ember di kamar mandi.

Graha Asri, 20 Oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s