Menghargai Kejujuran


Jika kita terpaksa harus mengeluh, buatlah lebih artistik, lebih bernilai. Setiap mengeluh sekali, bersyukurlah dua kali. Alasan mengeluh hakikatnya disebabkan terbanyak karena ketidakjujuran kita, bukan karena ketidakmampuan kita.

Jujur akan kemampuan kita artinya kita mampu mengelompokkan mana keinginan dan kebutuhan.

Seorang perencana keuangan pun pernah menulis soal ini dalam artikelnya, menabung berarti bersusah-susah dulu, bersantai-santai kemudian. Kalau hutang, berarti Anda menikmati dulu diawal, baru merasakan susahnya di belakang.

Nah disini kita memerlukan pembeda agar jujur dan pintar itu mudah kita cerna.

Budayawan asal Semarang, Prie GS dalam statusnya dijejaring sosial menulis : “Pintar itu penting. Jujur itu mendesak! “. Meskipun tidak setiap persoalan pintar selalu berkaitan dengan kemampuan. Jika alasan pertama ialah soal kebutuhan, dan soal kedua tentang kebanggaan, alasan seseorang memutuskan membeli kenda-raan secara kredit, yakin pasti lebih besar disebabkan oleh soal kedua.

Bahaya yg tak kita sangka-sangka sebagai bahaya itulah sebenar-benarnya bahaya. Jangan membeli sesuatu yg cuma menegaskan posisi sebagai orang kaya baru. Menetapkan ukuran berhasil ketika seseorang telah memiliki mobil. Duh!

Lain cerita kalau membeli tunai. Ancaman biaya pengeluaran bulanan yg membengkak pun didepan mata, kebutu-han rumah tangga pun menjadi “berbeda”, biasa sehari-hari belanja kebutuhan pokok cukup ke pasar, sekarang harus ke Mall. Dan yg paling menakutkan adalah efek sosialnya, Nah!! Itu nggak perlu detail banyak saya jelaskan soal ini.

Sederhana ditengah kejujuran lebih menguatkan, ketimbang kaya hasil dari sebuah kebohongan. Setuju?

Tips untuk Anda: dimulai dari mem-bedakan kebutuhan dan keinginan. Kemudian memilih hal yg prioritas terlebih dahulu, setelah itu ketahui cara yang baik dalam mengeluarkan uang untuk setiap pos pengeluaran.

Kesimpulannya ialah kita harus lebih pintar dalam membelanjakan penghasilan dan jujur akan kemampuan kita saat ini. Walau yg terburuk dari itu semua pasti ada yaitu: sudah tidak pintar, tidak jujur pula. Semoga yg terakhir ini bukan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s