Kemandirian vs Keterpaksaan


Kemandirian itu butuh perjuangan dan harus dipaksakan, karena memang cuma terpaksa itulah jalan satu-satunya yg mendorong semangat saya. Yakin, tak ada orangtua yg menginginkan anaknya menderita. Saya yg menjalani keterpaksaan itu amat menderita, yg memaksa itupun saya yakin tak kalah menderita.

Saya pernah dalam posisi terpaksa, terpaksa ikut orang, terpaksa ikut saudara, dan terpaksa ikut kerja paksa. Benar-benar kerja paksa. Terpaksa, karena pekerjaan lain sepertinya tidak ada untuk saya yg hanya lulusan SMK saat itu. Pekerjaanya berat, angkat-angkat dus dan galon air 19 liter setiap hari, sering masuk angin, tidak bergengsi, kecil upahnya, panjang waktunya, singkat istirahatnya, dan acak adut hari liburnya. Hari raya pun tidak boleh libur, usai sholat Ied, jam 9 wajib buka toko. Saking beratnya, saya hanya kuat bekerja selama 3 bulan saja. Dengan penuh keyakinan saya akhirnya memajukan diri (bukan mengundurkan diri), karena saya ingin maju saat itu, Itupun masih juga direpotkan dengan urusan pengambilan ijazah yg ditahan pihak outsourcing saat itu. Dengan gagah saya buat surat resign, saya pede keluar tanpa gaji, pede tapi sengsara.

Saya pernah terpaksa ikut paman hanya agar bisa numpang tidur dan makan di Karawang. Rasanya nggak enak sekali. Tidur tidak tenang karena harus bangun tepat waktu, makan tidak tenang, karena tidak boleh banyak-banyak.

Saya pernah terpaksa bekerja dengan pekerjaan yang tidak saya senangi. Rasanya menderita. Karena tidak senang dengan pekerjaan itu, saya jadi tidak senang dengan orang-orang disekitarnya. Maka double lah penderitaan saya. Tersiksa dalam pekerjaan, tersiksa dalam pertemanan.

Dari semua kejadian itu saya mengambil ibroh, karena baru jelas sebanarnya dibalik keterpaksaan-keterpaksaan itu. Ia adalah modal hidup. Numpang di saudara dan pengalaman kerja 3 bulan di retail adalah elemen dasar hidup di kemudian hari sampai dengan posisi saya hari ini.

Pembelajar hidup,

Deny Rosadi

Salam kangen untuk sahabat-sahabat saya :

1. M. Andi Arafat, Simpang Depok

2. Sholhan/ Q-Wa, Kebayoran Baru

ibroh = pelajaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s