Teh Panas


gftt.

Akhir tahun lalu saat saya mendapat undangan ke Jogja. Saya sempatkan mampir ke warung angkringan sekitar Kaliurang. Ramai sekali pengunjungnya, beberapa saya kategorikan pelanggan karena akrbanya dengan Bapak penjualnya. Warung-warung yg laris itu selalu berwatak emosional, entah itu karena senyum pelanggannya, bentuk typografi namanya, jenis tendanya atau cara menyajikannya.

Warung itu menghasut secara rasa, memainkan rasa kita, hanya dengan satu item produknya, tapi jika dibuat begitu kuat, ia akan menjadi juara. Contoh dalam warung ini: TEH PANAS.

Ada banyak warung tetapi salah memahami arti dari panas teh itu. Ada jenis panas yang tafsirnya sangat mencla-mencle. Tapi warung yg saya ceritakan ini, itu membiarkan panasnya itu terbukti dengan anglo yang terus menerus masak dan mengepul. Kesaksian bahwa itu selalu mendidih semua khalayak menyaksikan.Teh nya jelas, ukurannya jelas, coklatnya jelas dan gulanya jelas. Jadi hanya dengan satu item teh saja, Ia menghasut item-item yg lain. Sementara diwarung-warung lain hanya sekedar coklat. Penggemar teh pastinya tahu watak-watak teh itu. Karena satu item itu laris, maka seluruh item-item diwarung itu menjadi tertarik.

Ada banyak teh yang tidak menepati ukuran-ukuran yg disyariatkan. Kadang-kadang publik dibuat ragu-ragu, itu teh beneran atau cuman perasan sarung.

Anglo: bejana tanah liat dengan media panas arang bakar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s