Bacaan wajib untuk orang yang ingin sukses, dari buku : To Have or To Be and differentiates between having and being


Tersebut Heri, salah seorang Engineer lulusan terbaik dari sebuah Universitas Luar Negeri pulang ke Indonesia. Saat Ia tiba dirumah, malam harinya ada seseorang perwakilan dari Kementerian BUMN datang kerumahnya menawarkan sebuah project.

” Selamat malam, saya Andreas dari Kementerian BUMN, saya mau meminta bantuan Mas Heri untuk membantu proyek yang akan kami kerjakan. Project ini menyerap anggaran APBN tahun 2014 yang besarnya kurang lebih 500 Milliar, dengan prestasi yang Mas Heri torehkan di luar negeri pasti Mas dapat menghandle proyek ini dengan cakap”

Karena Mas Heri bepikirnya to have, dalam hatinya ia berkata ” 500 Milliar, wah kira-kira dapat fee berapa ya saya? semisal: minimal saya kebagian satu persen saja, wah masih lumayan gede, lima milliar”.

Kemudian Pak Andreas meneruskan, ” Oh iya Mas Heri, ini baru pilot project saja selama enam bulan sesuai dengan notulen meeting dengan Bapak Menteri dan atas pekerjaan kami dari Kementerian cuman dapat memberikan pengganti transport saja”

“Berapa pengganti transport perbulannya Pak?”, tanya Heri.

” Cuma Dua juta rupiah perbulan Mas, bagaimana? Apakah Mas Heri bersedia?” jawab Pak Andreas sekaligus menawarkan.

Karena Mas Heri berpikiran To Have atau transaksional tentu saja Ia menolak.

Seolah langit runtuh dan tidak percaya terhadap apa yang barusan Ia dengar dan dia hanya bisa ternganga. Berbeda 180 derajat dengan yang ada dikepalanya. Sekian persen yang Ia bayang-bayangkan sekejap sirna. Dan ia bergumam, “saya ini lulusan terbaik dari luar negeri, masa ngasih proyek sebesar itu, honornya cuma segitu? Dasar pelit !!”

“Bagaimana Mas? Bersedia?” tanyanya lagi.

“Duh Pak mohon maaf, bukannya saya menolak, tetapi saat ini saya juga lagi sibuk sekali dan harus menemui kawan-kawan untuk persiapan acara reuni sekolah. Tolong proyeknya jangan dikasih ke saya, coba Bapak datangi rekan saya, namanya Deny Rosadi. Ini nomor teleponnya 089992958**. Mungkin Mas Deny bersedia karena wajahnya lebih ikhlas.” tegas menolak.

” Baik Mas, kalau begitu saya langsung pamit “, pulang Pak Andreas.

Kemudian malam itu juga Pak Andreas menemui Mas Deny, berbekal nomor handphone tersebut.

Mas Deny karena ingin menjadi expert, ingin menjadi Ahli, Ingin menjadi To be. Ketika Pak Andreas datang menemuinya. Pertanyaan yg pertama yg ditanyakan bukan berapa fee nya. Tetapi Mas Deny melihat sudut seksi dari proyek itu, kemudian Ia langsung meng-iya-kan pertanyaan yang sama dari Pak Andreas, dan lantas bertanya beberapa pertanyaan.

” Baik Pak saya bersedia menghandle proyek ini, nanti dalam tim ini saya bekerja dengan siapa saja, dan dimana kantor saya bekerja?” tanya Mas Deny.

” Oh Mas Deny, nanti dibantu oleh departemen kami, Mas bisa cari beberapa referensi dan meminta bantuan konsultan dunia yang Mas butuhkan, Mas Deny dapat menemui Bapak Gubernur, dapat meminta Nasehat langsung ke Bapak Menteri di beberapa Kementerian terkait dan semisal ada hal urgent untuk diputuskan, Mas bisa eskalasi ke Bapak Presiden untuk persetujuan, Bagaimana Mas?”.

” Baik Pak, terima kasih karena sudah mempercayakan proyek ini ke saya. Semoga dalam waktu 6 bulan kedepan saya dapat menyelesaikan amanah ini dengan baik. Sekali lagi terima kasih”. Jabat tangan keduanya.

Di tempat lain dari kejauhan mas Heri ketawa kegelian dan berseloroh ” Deny Deny Deny, kok mau-maunya handle proyek itu. Cuma dibayar dua juta sebulan, hahaha deny deny deny, mendingan kamu ngojek !!”

Akhir cerita, pilot project ini diselesaikan oleh Mas Deny dengan sangat baik.
Pertanyaan saya, kira-kira Mas Deny valuenya menjadi mahal tidak?

Ia kemudian menggarap proyek senilai 500 Milliar tersebut. Dan kedepannya ia terus mendapat kepercayaan beberapa proyek dari beberapa Kementerian. Ia menjadi Ahli dalam menggarap poyek-proyek besar. Dalam hitungan beberapa tahun, Ia telah menjadi VP di perusahaan swasta ternama nasional.

Banyak orang yang ingin kaya, tetapi tidak mau menjadi ahli. (dibaca: to have). Padahal dengan menjadi ahli, kekayaan itu, banyak dicontohkan orang-orang sukses. Kekayaan itu mengikuti atau sejajar dengan keahilannya. (dibaca: to be)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s